Sun-Tzu

Ikhtisar

Joshua J. Mark
oleh , diterjemahkan oleh Mochamad Nasrul Chotib
dipublikasikan pada 09 Juli 2020

Teks asli bahasa Inggris: Sun-Tzu

The Art of War by Sun-Tzu (by Coelacan, CC BY-SA)

Sun-Tzu (hidup sekitar 500 SM) adalah jendral dan pakar strategi militer pada masa Tiongkok kuno yang namanya jauh lebih dikenal sebagai pengarang traktat tentang taktik militer, Seni Peperangan (The Art of War, juga sering disebut dengan judul Tigabelas Bab atau The Thirteen Chapters). Baik secara harfiah atau ide pemikirannya saja, sosok Sun-Tzu sering dikaitkan dengan golongan Aliran Militer (The School of the Military), yakni cabang filsafat yang lebih mengedepankan kesiapan dan kesigapan militer dalam menjaga kedamaian dan ketertiban sosial. Aliran tersebut berkembang dalam kurun sejarah bernama Periode Musim Semi dan Gugur (Spring and Autumn Period, sekitar 772-476 SM) dan merupakan bagian dari salah satu cabang utama filfasat Tiongkok kuno yang disebut Seratus Aliran Pemikiran (Hundred Schools of Thought).

Perihal benar tidaknya keberadaan figur sejarah benama Sun-Tzu telah lama menjadi perdebatan banyak pakar dan sejarawan, seperti halnya perdebatan mereka tentang filsuf Taoisme Lao-Tzu (hidup sekitar 500 BCE) sebagai figur sejarah serta tokoh seangkatan Sun-Tzu. Satu hal yang bisa dipastikan adalah sejarah sendiri jelas-jelas menyaksikan munculnya kitab Seni Peperangan beserta pengaruhnya yang sangat mendalam bahkanpun semenjak kali pertama karya ini diterbitkan. Fakta tersebut gamblang mengatakan bahwa seseorang nyata-nyata telah menulis kitab tersebut, hanya saja berdasar tradisi diyakini si penulis adalah sosok bernama Sun-Tzu.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Fakta kesejarahan Sun-Tzu sepertinya hampir bisa dibuktikan melalui penemuan karya-karyanya pada 1972 Masehi dalam sebuah makam di kota Linyi (propinsi Shandong), termasuk adanya tokoh bernama Sun Bin (wafat 316 SM) yang juga menulis Seni Peperangan lain dan bisa dikaitkan sebagai keturunan Sun-Tzu.  Namun para pakar yang beranggapan Sun Tzu bukan figur sejarah bersikukuh membantah dengan dalih bahwa karya maupun keturunannya pada hakikatnya tidak membuktikan apapun mengingat kitab Seni Peperangan yang sebelumnya bisa sangat mungkin ditulis orang lain.

Sun-Tzu sendiri diyakini pernah hidup, bertempur dan menyusun karyanya di sepanjang Periode Musim Semi dan Gugur. Periode ini tepat mendahului Jaman Perang Antar-Negara (Warring States Period, sekitar 481-221 SM) yakni era kemerosotan Dinasti Zhou (1046-256 SM) dan mengakibatkan berbagai negara bagian yang dulunya mendukung dinasti ini justru balik bertempur satu sama lain dalam perebutan supremasi dan kekuasaan atas seluruh wilayah Cina.

sejak terbit hingga saat ini, karya sun-tzu telah menjadi acuan utama bagi banyak ahli militer bahkan pakar strategi bisnis, dan ajarannya terkait upaya mencapai tujuan personal tetap menjadi referensi berharga sampai sekarang.

Pada masa-masa awal Periode Musim Semi dan Gugur, semua tata-perang (warfare) di Tiongkok masih berpegang teguh pada norma ksatria (chivalric behavior) sebagai protokol militer tradisional yang diterapkan sebelum, selama dan sesudah pertempuran. Seiring berakhirnya Periode tersebut, ketaatan pada tradisi militer ini justru makin memicu frustrasi semua pihak mengingat tidak satupun negara bagian mampu mengungguli negara lain tersebab mereka semua menerapkan protokoler militer sekaligus taktik perang yang persis sama.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Atas alasan tersebut karya Sun-Tzu jadi banyak dicari untuk membantu memecahkan kebuntuan militer pada masa itu karena Seni Peperangan memaktub berbagai pedoman gamblang tentang strategi meraih kemenangan yang mutlak melalui ikhtiar apapun yang diperlukan. Konsep dasar taktik militer Sun-Tzu bisa jadi bersumber dari pemikiran filosofis sebelumnya atau didasari pengalamannya sendiri dalam mengikuti pertempuran. Yang manapun, teori Seni Peperangan bakal dimanfaatkan sepenuhnya oleh raja dari negara bagian Qin, Ying Sheng (hidup 259-210 SM), hingga berhasil menaklukan negara bagian lain dengan menerapkan taktik perang total seperti digagas Sun-Tzu dalam karyanya. Keberhasilan kampanye militer ini memastikan Ying Sheng membuka gerbang berdirinya Dinasti Qin (221-206 SM) sekaligus menahbiskan dirinya sebagai Shi Huangdi, sang Kaisar Cina yang pertama (bertahta 221-210 BCE). Karya Sun-Tzu tetap dijadikan acuan utama bagi para ahli militer bahkan pakar strategi bisnis semenjak terbit hingga saat ini, termasuk ajarannya tentang upaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan personal juga masih menjadi referensi berharga bagi berbagai kalangan sosial dan rumpun profesi apapun.

Fakta Kesejarahan Sun-Tzu

Sulitnya memastikan perihal Sun-Tzu benar-benar sosok nyata dalam sejarah didasari pada faktor masa yang diyakini sebagai kurun kehidupan dan kepengarangannya sendiri. Baik Periode Musim Semi dan Gugur beserta Jaman Perang Antar-Negara berikutnya sama-sama menyatakan era kesengkarutan (chaotic era) akibat luruhnya otoritas Dinasti Zhou dan dimulainya konflik militer tak berkesudahan antar-negara bagian yang sebelumnya mendukung dan membela dinasti ini sendiri.

Carut-marut dalam kedua kurun tersebut, ditambah polah Dinasti Qin yang memusnahkan banyak karya dan catatan di kitaran masa yang sama, berujung pada sirnanya berbagai rekaman sejarah yang signifikan untuk membantu membuktikan kesejarahan Sun-Tzu. Karena itu gagasan mendasar yang bisa diajukan adalah pastinya ada seorang jendral dengan reputasi setara atau hampir menyamai Sun-Tzu yang pernah hidup dan aktif bertugas dalam kurun tersebut dan dari sang jendral inilah ide terkait taktik perang total sebagai solusi penyelesaian konflik sekaligus upaya penegakan perdamaian berasal.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Chinese Terracotta Warrior
Chinese Terracotta Warrior
by glancs (CC BY)

Bagi Sun-Tzu sendiri, perang adalah sekedar alat perpanjangan politik dan hanya boleh digunakan dalam batas kepentingan yang mengatasnamakan kemaslahatan bersama bagi semua pihak, termasuk sang tertakluk pun sang penakluk. Akan tetapi, kemenangan justru mutlak diperlukan bagi sebuah pihak jika tidak ingin menjadikan perang sebagai upaya buang-buang nyawa dan sumber daya secara sia-sia. Sejarawan Samuel B. Griffith berpendapat:

Sebagai bagian integral dari banyak kekuatan politik pada masa itu, perang telah menjadi ‘perkara yang sangat vital bagi sebuah negara bagian (karena) mencakup wilayah hidup dan mati sekaligus jalan sintas atau sirna’. Agar bisa dilancarkan dengan sukses, perang menuntut adanya teori taktis dan strategis yang koheren termasuk doktrin praktis yang mengatur delik-sandi (intelligence), siasat (planning), garis komando (command), kebutuhan operasional serta prosedural administrasi. Pengarang kitab 'Tigabelas Bab', karenanya, adalah orang pertama yang memberikan teori maupun doktrin tersebut. (Griffith, 44)

Identitas sesungguhnya dari ‘orang pertama’ yang disebut Griffith di atas masih tetap menjadi perdebatan hingga saat ini. Fakta kesejarahan Sun-Tzu atau keberadaannya sebagai figur sejarah didukung dua karya besar, Ikhtisar Musim Semi dan Gugur (The Spring and Autumn Annals, yakni catatan kenegaraan Dinasti Zhou dari 722-481 SM) serta Risalah tentang Sejarawan Agung (Records of the Grand Historian, sekitar 94 SM) yang ditulis oleh sejarawan Dinasti Han, Sima Qian (hidup 145/135-86 SM). Namun banyak pakar masih mempertanyakan keakuratan dan kemungkinan saling-silang peristiwa (sejarah) dalam kedua karya tersebut. Mereka yang meragukan fakta kesejarahan Sun-Tzu berdalih jika benar pernah ada sosok dengan gagasan militer sedemikian jenius, harusnya bakal dijumpai lebih banyak catatan atau tulisan terkait sosok tersebut alih-alih sekedar nukilan terusan (passing references) sebagaimana termaktub dalam kedua karya yang dimaksud. Meskipun masuk akal, dalih ini tidak serta-merta berterima dengan kenyataan bahwa banyak rekaman data (entries) dari kedua karya di atas tetap bisa diterima sebagai fakta sejarah yang akurat sekalipun ditulis dengan sangat singkat. Sejarawan Robert Eno menjelaskan:

Sisihkan pariwara

Advertisement

Kitab Ikhtisar Musim Semi dan Gugur…cenderung singkat, kurang informatif dan kurang konsisten dalam memilih peristiwa yang direkam. Tipikal bentuk rekaman data biasanya terbaca, ‘Musim gugur; bulan kedelapan; hama belalang.’ (1)

Berdasar penjelasan Eno di atas, kritik terhadap kesejarahan Sun-Tzu bisa dianggap memiliki dasar yang valid sebagai dalih bantahan. Namun perlu diingat bahwa kitab Ikhtisar yang dikritik karena tidak memaktub catatan lebih lengkap tentang Sun-Tzu sebenarnya sama-sama tidak berisi catatan yang juga lebih lengkap tentang figur maupun peristiwa penting lain dalam sejarah. Terkait kitab Risalah, Sima Qian juga sebenarnya lebih memusatkan perhatian untuk menulis biografi dari para tokoh yang menurut hematnya telah dicemarkan atau menerima perlakuan kurang adil dalam sejarah. Fokus dan tujuan penulisan ini sangat mungkin menjadi alasan Sima Qian tidak merasa perlu memaktub terlalu banyak catatan tentang Sun-Tzu yang notabene memiliki reputasi tinggi dan sudah dikenal baik oleh kalangan pembaca pada jamannya.

Sima Qian
Sima Qian
by ZazaPress (CC BY-NC-SA)

Selain bentuk penukilan yang singkat, kitab Risalah tentang Sejarawan Agung juga dianggap kurang andal dalam membuktikan fakta kesejarahan Sun-Tzu berdasar dalih dari sebagian pakar yang berpendapat bahwa deskripsi atau gambaran tentang dinasti Xia dan Shang dalam kitab tersebut cenderung bersifat khayali (largely fanciful). Bantahan ini mungkin sempat dianggap absah, namun penggalian arkeologi pada abad ke-20 Masehi telah menemukan bukti fisik yang sepenuhnya mendukung kebenaran catatan Sima Qian khususnya tentang dinasti Shang, dan mungkin juga terkait dinasti Xia. Karenanya, bisa disimpulkan bahwa sebagian besar data atau catatan yang dimaktub dalam kitab Risalah bersifat akurat dan harusnya juga termasuk bagian yang menyebut atau menjelaskan Sun-Tzu.

Hambatan selanjutnya dalam membuktikan fakta kesejarahan Sun-Tzu tidak lain dan tidak bukan justru terletak pada faktor namanya sendiri: Sun-Tzu bukan nama individu, melainkan sebuah gelar yang bisa diterjemahkan sebagai Sang Maestro atau Sang Empu (The Master). Terlebih lagi, kitab Seni Peperangan sendiri berkali-kali menggunakan frase “Sun-Tzu mengatakan…” setiap memulai sebuah petunjuk atau ujaran. Format nama dan penulisan ini yang mendasari argumen ada seorang jenius militer – namun namanya tidak diketahui – dan telah menjadi sumber inspirasi dari kitab yang ditulis untuk meriwayatkan strateginya. Di samping itu, ada pula gagasan bahwa salah seorang pengikut Aliran Militer bisa jadi merupakan si pengarang sebenarnya dari kitab Seni Peperangan yang dimaksudkan sebagai traktat untuk mencatatkan dasar keyakinan aliran tersebut, utamanya terkait kemutlakan mencapai kemenangan dalam perang sebagai syarat menciptakan perdamaian.

Kesejarahan & Pengaruh

Para pakar yang berpendapat Sun-Tzu adalah figur nyata dalam sejarah mengambil bukti perannya dalam mencapai kemenangan pada Perang Boju (506 SM) sebagai landasan dalih mereka. Sumber-sumber terkait menyatakan Sun-Tzu pernah bertugas di bawah raja bangsa Wu, Ho-lu (atau Helu, bertahta 515-496 SM), selama masa peperangan bangsa Wu-Chu (Wu-Chu Wars) pada 512-506 SM. Dikisahkan bahwa Raja Ho-Lu berniat menguji komitmen dan kemampuan Sun-Tzu sebelum mengangkatnya sebagai panglima pasukan dengan cara memberi titah untuk mengubah 180 selir istana menjadi prajurit siap tempur. Menghadapi ujian ini, Sun-Tzu membagi para harem menjadi dua regu, masing-masing dipimpin seorang selir kesayangan Raja selaku komandan. Sun-Tzu lantas memberikan aba-aba hadap kanan untuk pertama kali yang kontan disambut gelak tawa dan sikap tidak ambil pusing dari para selir. Alih-alih menyerah, Sun-Tzu mengulang aba-aba kedua kali hanya untuk mendapati hasil yang sama: cekikikan geli para selir. Menyaksikan kondisi lapangan ini, Sun-Tzu tanpa sungkan memberi perintah mengeksekusi mati dua ‘komandan’ regu dan menggantikan mereka dengan selir lain. Menyadari keseriusan dan ketegasan sikap Sun-Tzu, para selir sontak berubah sangat patuh dan tanpa ragu mengikuti semua komando selanjutnya. Alhasil, Raja Ho-Lu melantik Sun-Tzu sebagai panglima tertinggi pasukan Wu.

Bagi sebagian kalangan, kisah di atas dianggap sebagai fiksi belaka setidaknya sejak abad ke-11 Masehi, yakni saat sejarawan dari Dinasti Sung, Yeh Cheng-Tse, mulai menyangsikan keberadaan Sun-Tzu sebagai figur sejarah untuk pertama kalinya, sekalipun keraguan ini tidak serta-merta menghentikan anggapan tandingan bahwa kisah yang sama adalah fakta sejarah, pun hingga saat ini. Terlepas dari benar tidaknya status fiksi atau realita kisah tersebut, cerita yang sama tetap gamblang menggambarkan komitmen Sun-Tzu untuk mencapai kemenangan – semahal apapun harganya – dan diawali dengan dasar disiplin tinggi dari para anggota pasukan.  

Chinese Army on the March
Chinese Army on the March
by The Creative Assembly (Copyright)

Menurut hemat Sima Qian sendiri, cerita di atas sudah sepatutnya diterima sebagai realita karena isinya sejalan dengan konsep disiplin Sun-Tzu yang dibuktikan dengan kemenangan tentara Wu dalam perang Boju, mengingat tidak mungkin negara Wu mampu mengungguli lawannya jika tidak dikarenakan dua hal: disiplin pasukan dan terapan taktik militer. Dalam perang ini, Sun-Tzu dikisahkan memimpin pasukan bersama Raja Ho-Lu beserta Fugai, adik sang Raja, dan berhasil mengalahkan pasukan Chu setelah menerapkan taktik militer Sun-Tzu. Dalam kitab Seni Peperangan, keunggulan strategi tersebut dijabarkan sebagai berikut:

Meski menurut perkiraanku kekuatan tentara Chu melebihi jumlah pasukan kita, belum tentu hal ini bisa menguntungkan atau menjamin kemenangan mereka. Karenanya, kutegaskan kembali bahwa kemenangan masih sangat mungkin kita raih. Sekalipun jumlah pasukan musuh jauh lebih besar, kita bisa mencegah mereka berhadapan dalam pertempuran [langsung]. Susun siasat untuk mengetahui rencana mereka dan timbang kemungkinan keberhasilan rencana tersebut. Gugah [kewaspadaan] mereka dan pelajari prinsip apa yang membuat mereka siaga dan sebaliknya, membuat teledor. Paksa mereka membuka diri hingga kalian bisa membaca titik kelemahan mereka. Bandingkan dengan seksama kekuatan musuh dan kalian sendiri untuk mengetahui persis letak kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam mengatur disposisi taktis (posisi tempur atau bertahan), capailah tingkat tertinggi dengan menyamarkan disposisi kalian; hanya dengan menyembunyikan disposisi, kalian bakal aman dari intaian mata-mata yang paling licik serta akal-muslihat [musuh] yang paling licin sekalipun. Bagaimana meraih kemenangan dengan cara memperdayai taktik musuh sendiri – ini yang tidak bisa dilakukan kebanyakan orang. (6.21-26)

Pada perang Boju, jumlah pasukan Chu memang jauh mengungguli tentara Wu dan kenyataan ini yang membuat Raja Ho-Lu ragu-ragu untuk menyerang sekalipun para pasukan dari kedua belah pihak telah disiagakan dalam medan pertempuran. Bahkan sang Raja juga menolak ketika adiknya, Fugai, meminta ijin untuk membunyikan komando serangan. Melihat kondisi ini, Fugai mengambil inisiatif tempur sendiri berdasar nasehat strategis dari Sun-Tzu dan memberikan komando untuk memulai pertempuran. Jika saja pasukan Wu tidak memiliki disiplin amat tinggi, mereka bakal ragu membuka serangan seraya menunggu sang Raja memberikan aba-aba. Namun kenyataannya, semua tentara Wu lebih memilih mengikuti perintah Fugai sebagai komandan mereka hingga berhasil mendesak musuh keluar medan perang. Fugai bersama pasukannya terus mengejar pasukan lawan, mengalahkan mereka dalam lima pertempuran berikutnya, hingga pada akhirnya berhasil menaklukan kota Ying sebagai ibukota negara Chu.

Kemenangan gemilang yang diraih Fugai dalam peperangan bangsa Wu-Chu semata didasari dua hal: keberanian dan keyakinannya pada ajaran Sun-Tzu. Berdasar informasi delik-sandi dari agen mata-matanya, Fugai mengetahui bahwa Nang Wa, jendral lawan, justru tidak disukai bawahannya sendiri dan pasukan musuh juga tidak memiliki semangat tempur yang tinggi. Mengikuti petunjuk Sun-Tzu, “paksa mereka membuka diri…[untuk] membaca titik kelemahan mereka”, Fugai dengan seksama membandingkan kondisi kedua pasukan sebelum sampai pada simpulan tentaranya punya cukup modal untuk menang. Sesuai instruksi Sun-Tzu, Fugai berhasil memenangi perang setelah memperdayai taktik musuh sendiri dengan cara menolak mengikuti standar protokol perang sebagaimana dipahami pada saat itu. Dia tidak memberi kesempatan musuh untuk mundur guna menyusun kekuatan kembali serta tidak menunggu pasukan lawan tuntas menyebrang Sungai Qingfa, alih-alih justru menyergap ketika sebagian tentara musuh masih berada di tengah sungai. Alhasil, kekuatan musuh terpecah dua dalam kondisi barisan yang kocar-kacir dan mobilisasi pasukan yang amburadul. Pada pertempuran lain, Fugai bahkan tidak ragu menyerang musuh pada jam santap malam mereka.

Perang Total & Pengaruh Taoisme

Patut disebut bahwa kemenangan Fugai di perang Boju bisa dipastikan mustahil terjadi tanpa (ajaran) Sun-Tzu. Seperti sempat dijelaskan, pada era sebelum hingga masa awal Periode Musim Semi dan Gugur tata-perang di Tiongkok masih diyakini sebagai sebuah gelaran (sport) kebangsawanan dan didasari kaidah atau norma ksatria beserta beragam pamali-perang yang tabu untuk dilanggar: namun Sun-Tzu, singkatnya, mengubah semua kondisi ini. Griffith berkomentar:

Pada masa Tiongkok kuno, perang masih dianggap sebagai kontes ksatria. Karenanya, perang diatur melalui norma (code) yang biasanya ditaati kedua belah pihak. Banyak ilustrasi telah ditemukan terkait hal ini…Salah satu contoh, pada 632 SM komandan pasukan Chin yang berhasil mengalahkan tentara Ch’u dalam perang Ch’eng P’u malah memberikan ransum makanan untuk tiga hari pada pasukan lawan yang dikalahkan. Kebaikan ini nantinya juga dibalas pasukan Ch’u ketika mereka memenangi perang di wilayah Pi. Pada saat kitab Seni Peperangan selesai ditulis, norma peperangan seperti ini berubah usang dan ditinggalkan. (Griffith, 23)

Sun-Tzu mengubah aturan perang dengan menerapkan prinsip Taoisme dan tegas menolak perang sekedar sebagai gelaran (sport). Seni Peperangan memaktub:

Dalam peperangan, jadikan kemenangan sebagai kemutlakan tujuan, alih-alih kampanye (militer) berkepanjangan. Ketahuilah bahwa pemimpin pasukan pada hakikatnya adalah wasit penentu (arbiter) bagi takdir masyarakat, yakni mereka yang di pundaknya bergantang nasib apakah sebuah bangsa bakal sintas atau sirna. (2.19-20)

Terlebih lagi, Sun-Tzu jelas tidak punya waktu dan kesabaran menghadapi jenis ‘permainan perang’ yang berlarut-larut dan tampaknya menjadi hobi para jendral pada masa itu. Bagi Sun-Tzu, sekali pertempuran terjadi, prioritas pemimpin pasukan adalah mengalahkan lawan, alih-alih berlaku bak ksatria yang hanya membuat konflik makin panjang dan makin menyetor nyawa sia-sia. Terkait hal ini, sejarawan John M. Koller menjelaskan pengaruh Taoisme dalam konsep Seni Peperangan:

Taoisme mencari hidup laras dengan mengerjakan hal yang alamiah, bukan melalui ketaatan pada konvensi masyarakat. Konsekuensinya, berseberangan dengan Konfusianisme yang menekankan penanaman budi-pekerti dan penguatan hubungan baik antar-manusia, Taoisme lebih bertumpu pada kesederhanaan hidup yang spontan dengan cara bertata-laku sejalan dengan sifat alamiah lingkungan sekitar. (243)

Konsep “kesederhanaan hidup yang spontan” inilah yang tersirat dalam semua strategi Sun-Tzu terutama kekukuhannya mengartikan kemenangan sebagai kemutlakan alamiah dalam pertempuran seraya mengabaikan norma kearifan militer yang konvensional dan berlaku pada saat itu. Lebih jauh Koller menyatakan bahwa karya utama Taoisme yakni kitab Tao-Te-Ching, “menafikan kekejaman peperangan sekaligus menyatakan kerinduan mendalam pada perdamaian” (244). Kaidah inipun juga gamblang tersirat dalam Seni Peperangan dengan menjadikan kemenangan sebagai jalan paling alamiah dan terbaik untuk mencapai perdamaian karena bisa mengakhiri peperangan secepat mungkin, atau lebih sempurnanya lagi, jika bisa memenangi lawan pun sebelum pertempuran dimulai.

Gate Towers, Chang'an
Gate Towers, Chang'an
by Unknown Artist (Public Domain)

Sun-Tzu menuliskan, “Bertempur dan menaklukan musuh di semua pertempuran bukanlah kemenangan pamuncak (supreme excellence); sungguh pamuncak dari semua kemenangan adalah mematahkan pertahanan lawan tanpa pertempuran” (2.2). Taktik Sun-Tzu yang paling mendasar ini bisa ditemui di sepanjang tulisannya dan mencerminkan nukilan bait dari kitab Tao-Te-Ching:

Mengalah sebelum menang

Merunduk sebelum tegak

Meluang sebelum pepak. (Sanjak 22)

Melalui adaptasi dengan lingkungan sekitar, bukannya malah berpegang teguh pada apa yang seharusnya terjadi atau diharapkan, seseorang bakal mampu mencermati perubahan kondisi dan bertindak tanpa keraguan.

Sun-Tzu & Bangkitnya Dinasti-dinasti Tiongkok

Meskipun karya Sun-Tzu mungkin sudah dikenal selama Jaman Perang Antar-Negara, berbagai ajarannya baru diterapkan dalam reformasi yang diprakarsai negarawan bangsa Qin, Shang Yang (wafat 338 SM). Ditengarai kemungkinan bahwa negarawan ini juga telah mengetahui karya Sun-Tzu sebelumnya, mengingat gagasan Shang sejalan dengan visi Sun-Tzu dalam memprakarsai perang total, alih-alih ketaatan pada tradisi militer dari masa lalu. Ide reformatif Shang Yang bakal diterapkan sepenuhnya oleh raja bangsa Qin, Ying Zheng, dalam kampanye penaklukan negara bagian lain selama 230-221 SM hingga berhasil menyatukan Cina di bawah kekuasaannya sebagai Shi Huangdi, sekaligus mendirikan Dinasti Qin sebagai dinasti kekaisaran Cina yang pertama.

Bisa dikatakan bahwa Seni peperangan merupakan karya yang mendasari berdirinya berbagai dinasti kekaisaran yang bertahta di cina hingga 1912 masehi.

Bersamaan dengan runtuhnya Dinasti Qin pada 206-202 SM, dua kandidat yang berebut menjadi penguasa Cina berikutnya, Liu Bang dari negara Han (hidup sekitar 256-195 SM) dan Xiang Yu dari negara Chu (hidup 232-202 SM), juga menerapkan ajaran Sun-Tzu ketika berperang satu sama lain. Taktik militer yang menuntun bangsa Han menang mutlak dalam Perang Gaixia (202 SM) pada hakikatnya mengikuti ideologi yang termaktub dalam Seni Peperangan, namun yang paling menonjol adalah saat Han Xin, jendral dari negara Han (hidup 231-196 SM), menyerang Xiang-Yu tanpa henti dan tanpa mengindahkan norma peperangan yang berlaku sebelumnya, termasuk siasatnya memerintahkan pasukan Han menyanyikan lagu-lagu tradisional negara Chu untuk mematahkan semangat juang tentara lawan.

Perang Gaixia membuka jalan bagi tegaknya Dinasti Han (202 SM - 220 Masehi) yang banyak menghidupkan kembali tradisi dan budaya Dinasti Zhou serta mendorong berbagai perkembangan kebudayaan lain seperti penemuan kertas, pengolahan bubuk mesiu, pendataan sejarah, dan pembukaan Jalur Sutra yang sekaligus menandai awal perniagaan internasional pada 130 SM. Dinasti Han bisa disebut sebagai model pemerintahan yang dijadikan acuan bagi berbagai dinasti di Tiongkok sesudahnya, karena itu juga bisa dikatakan bahwa Seni Peperangan pada hakikatnya adalah sebuah karya yang melandasi tegaknya berbagai dinasti kekaisaran yang memerintah Cina hingga 1912 Masehi.

Simpulan

Seni Peperangan ditengarai juga digunakan sebagai acuan strategi oleh Cao Cao (hidup 155-220 Masehi), panglima perang terkenal sekaligus salah satu jendral yang berupaya menguasai tahta Tiongkok seiring luruhnya kekuasaan Dinasti Han. Cao Cao sendiri bahkan menuliskan ulasannya terhadap karya tersebut untuk menekankan pentingnya kitab Seni Peperangan pada masa itu. Akan tetapi ulasan ini mungkin terasa kurang signifikan mengingat semua penguasa atau bangsawan yang terlibat dalam Perang Delapan Pangeran (War of the Eight Princes, 291-306 Masehi) pastinya telah memahami arti penting Seni Peperangan tersebab mereka semua juga menerapkan strategi dan ajaran Sun-Tzu ketika berperang satu sama lain. Kekalahan Cao Cao dalam Perang Tubir Merah (Battle of Red Cliffs, 208 Masehi) menyatakan dimulainya Periode Tiga Kerajaan (Three Kingdoms Period, 220-280 Masehi) dan membagi Cina menjadi beberapa kerajaan berbeda, masing-masing dipimpin para mantan jendral yang semuanya telah menerapkan buah pikir dan siasat Sun-Tzu.

Kitab Seni Peperangan terus menjadi acuan penting di sepanjang sejarah Cina hingga pada gilirannya dianggap sebagai salah satu karya kanon sekaligus bacaan wajib. Dari negara ini, kitab tersebut bakal ‘mengembara’ ke berbagai penjuru dunia hingga menjadi salah satu karya paling laris (bestselling) pada masa kini. Norma pamuncak yang digagas Sun-Tzu yakni “Roh dari semua peperangan adalah muslihat (All warfare is based on deception)” (1.18) juga telah dinukil sebagai satu konsep paling mendasar dalam berbagai bentuk kampanya militer, transaksi bisnis, pembelaan hukum hingga kampanye politik.

Karya Sun-Tzu makin sohor setelah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia. Terapan praktis Seni Peperangan tidak hanya berterima bagi kalangan militer, melainkan juga para perancang bisnis, penasehat politik, termasuk para pemandu atau motivator kehidupan yang memberi beragam nasehat baik yang bersifat finansial maupun personal. Pada akhirnya, perihal ada tidaknya sosok Sun-Tzu sebagai figur sejarah berangsur menjadi topik yang tidak signifikan mengingat tiap satu dari berapapun jumlah sampul Seni Peperangan yang diterbitkan bakal membuat nama Sun-Tzu makin abadi.

Sisihkan pariwara

Advertensi

Tentang Penerjemah

Mochamad Nasrul Chotib
Mochamad Nasrul Chotib adalah lulusan Program Magister bidang Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Saat ini berprofesi sebagai dosen tetap pada Universitas Negeri Malang.

Tentang Penulis

Joshua J. Mark
A freelance writer and former part-time Professor of Philosophy at Marist College, New York, Joshua J. Mark has lived in Greece and Germany and traveled through Egypt. He has taught history, writing, literature, and philosophy at the college level.