Anjing Bahari – Pelaut Bayaran Ratu Elizabeth

Artikel

Mark Cartwright
oleh , diterjemahkan oleh Mochamad Nasrul Chotib
dipublikasikan pada 03 Juli 2020

Teks asli bahasa Inggris: The Sea Dogs - Queen Elizabeth's Privateers

‘Anjing Bahari’ (sea dogs) adalah ejekan yang biasa digunakan otoritas Spanyol untuk menamakan para pelaut bayaran (privateers) yang menerima restu, kadang bahkan dukungan dana, dari Ratu Elizabeth I (bertahta 1558-1603 Masehi) untuk menyerang dan menjarah pemukiman koloni dan kapal-kapal banda (treasure ships) milik Spanyol pada paruh kedua abad ke-16 Masehi. Hanya dengan berbekal sepucuk surat ijin (license) dari sang Ratu sebagai satu-satunya hal membedakan mereka dengan bajak laut tulen, marinir seperti Sir Francis Drake dan Sir Walter Raleigh mampu meraup kekayaan menggiurkan baik bagi mereka sendiri maupun bagi para penyandang dananya. Tersebab Raja Philip II dari Spanyol (bertahta 1556-1598) bersikukuh melanjutkan monopoli dagang dan tidak membisakan Inggris membuka jalur niaga secara resmi dengan berbagai koloni di wilayah Dunia Baru, Ratu Elizabeth dan pemerintahannya balik menerapkan taktik pembajakan sebagai upaya membujuk Raja Spanyol agar mau mengubah kebijakannya. Seiring dengan memburuknya hubungan Inggris-Spanyol, para pelaut bayaran ini berubah menjadi alat yang sangat berguna untuk mengurangi kekayaan Spanyol sekaligus merongrong rencana Raja Philip membangun armada bahari yang disiapkan untuk melancarkan invasi terhadap kerajaan Inggris. Akan tetapi, sekalipun bisa dibilang cukup sukses dalam misi mereka, khususnya dengan keberhasilan menangkap kapal banda raksasa, Madre de Deus, para pelaut bayaran ini sebenarnya juga bekerja secara independen sehingga tidak menyatakan ancaman serius dan berkepanjangan bagi Spanyol, terlebih saat Raja Philip mulai menggunakan konvoi kawalan kapal bersenjata secara efektif. Betapapun, kelincahan, gelegar meriam serta kebringasan para kapten kapal Inggris sempat menjadi biang keruwetan bagi Spanyol selama beberapa dekade di laut lepas.

 

The Capture of Cacafuego by the Golden Hind
The Capture of Cacafuego by the Golden Hind
by Friedrich van Hulsen (Public Domain)

Dunia Baru

Sebagai bagian dari wilayah kekaisaran Spanyol, daratan Amerika yang maha-luas dipandang sebagai sumber kekayaan yang menggiurkan bagi banyak kekuatan politik tandingan dari Eropa. Bangsa Spanyol sendiri menjarah emas, perak dan batu mulia dari berbagai negara bagian yang telah ditaklukkan di benua ini dan mengangkut semua kekayaan tersebut dalam kapal banda menuju Eropa, seringnya dalam armada tahunan yang biasanya disebut armada perak (plate fleet, berasal dari bahasa Spanyol ‘plata’, perak). Bersamaan dengan ditahbiskannya Philip II dari Spanyol sebagai raja Portugal pada 1580 Masehi, kerajaan Spanyol bahkan memiliki lebih banyak kapal banda yang datang dari Asia dengan kargo berisi beragam rempah yang mahal, porselen bermutu tinggi, ditambah barang berharga lainnya. Selain keberlimpahan kekayaan seperti ini, sumber kedua yang sama menggiurkan adalah besarnya peluang dagang dengan berbagai penduduk asli dan para pemukim koloni Spanyol di Amerika. Namun tersebab Raja Philip bertekad memagari akses dagang dengan sumber kedua tersebut dan bersikukuh menjauhkannya dari sentuhan kekuatan politik lain di Eropa, alhasil banyak kekuasaan monarki seperti Elizabeth I dari Inggris beralih ke sumber pertama sebagai alternatif mencari keuntungan. Usaha damai untuk berdagang sebenarnya telah diupayakan seperti dilakukan pelaut John Hawkins pada 1560an Masehi, namun serangan maritim Spanyol yang menenggelamkan segenap armada Hawkins, kecuali menyisakan dua kapal, di pelabuhan San Juan D’Ulloa, kota Vera Cruz, Meksiko, hanya membuktikan tekad bangsa Spanyol yang enggan berbagi monopoli niaga di wilayah Amerika dengan bangsa lain, terlepas dari kenyataan Spanyol sendiri sebenarnya tidak mampu memenuhi kuota dagang terkhusus untuk kain dan budak pada masa itu.

Sisihkan pariwara

Advertisement

cukup dengan sejumput pound dalam ribuan atau beberapa kapal tua, sang ratu sudah bisa panen untung meruah dari berbagai ekspedisi yang pulang dengan kargo membludak penuh barang berharga hasil pampasan.

Dengan berulang kali menjarah pemukiman koloni dan kapal banda milik Raja Philip, Inggris bisa menjadi lebih kaya sementara lawannya, Spanyol, lebih miskin, dan ujung-ujungnya, Raja Spanyol jadi berpikir ulang untuk membuka perdagangan bebas di wilayah barat samudra Atlantik. Atas dalih inilah Ratu Elizabeth tidak hanya menutup mata atas aksi pembajakan yang dilakukan rakyatnya, namun bahkan turut mendukung aksi tersebut. Dukungan ini dimunculkan dalam beragam bentuk mulai pemberian titah rahasia (secret orders), penerbitan lisensi resmi (letters of marque) bagi kapal-kapal bersenjata milik para pelaut bayaran, sokongan dana untuk pembelian kapal dan gudang, penggunaan kapal milik angkatan laut kerajaan, hingga pengakuan prestasi seperti penganugrahan gelar kebangsawanan beserta lahan bagi mereka yang berhasil menjalankan misi ‘pembajakan’ tersebut. Sang Ratu bahkan tidak ragu menanam investasi dalam saham-gabungan milik berbagai perusahaan yang sengaja diciptakan untuk membiayai ekspedisi pelaut bayaran tertentu. Beberapa pelayaran juga menyertakan tujuan jelajah wilayah dan atau rute dagang baru seperti Jalur Baratlaut (Northwest Passage) yang diharapkan bisa menjembatani Amerika Utara dan Asia. Namun para pakar masih berselisih perihal benar tidaknya Elizabeth sendiri ingin mendirikan koloni baru pada masa-masa ini, terutama jika dikaitkan kenyataan sang Ratu bisa dengan cepat merampas sumber daya yang diproduksi monarki tandingannya.

Pun juga menimbang kenyataan sang Ratu tidak bakal banyak merugi. Cukup dengan menyediakan sejumput pounds dalam jumlah ribuan atau beberapa kapal tua, sang Ratu sudah bisa menikmati panen melimpah dari berbagai ekspedisi yang pulang dengan kargo membludak penuh harta berharga hasil jarahan. Tentu saja jenis peperangan ekonomi seperti ini jauh lebih murah dibanding membiayai pasukan darat yang besar, dan sekalipun hasil pampasan yang disebut Elizabeth sebagai “harta karun dalam peti (chested treasure)’ hanya sesekali berhasil diperoleh, tetap saja hasil ini membantu meringankan beban pajak bagi rakyatnya. Pada beberapa tahun keuntungan dari hasil ekspedisi bayaran (privateering) sempat tercatat melampaui pemasukan tahunan kerajaan Inggris pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Belum menghitung keuntungan lain, yakni di satu sisi para pelaut bayaran ini jadi makin mahir dalam hal pengalaman maritim dan kapal mereka bisa dipakai sebagai tenaga bantuan atau cadangan selama kondisi gawat-darurat seperti saat menghadapi invasi Armada Spanyol pada 1588 Masehi. Di sisi lain dalam jenak beriringan, kekuatan armada Raja Philip juga terhitung makin melemah.

Elizabeth I Pelican Portrait
Elizabeth I Pelican Portrait
by Nicholas Hilliard (Public Domain)
Bisa dibayangkan Raja Philip mencak-mencak mengetahui hartanya makin kalong akibat dijarah, hanya saja pada saat yang bersamaan, kedua tangan sang Raja juga sibuk menata dan menjaga keutuhan kekaisarannya, karenanya agak muskil perintah perang bakal jatuh gegara beberapa kapal pelaut bayaran. Pada gilirannya, Raja Philip benar-benar menitahkan penyerangan atas Inggris melalui Armada Spanyol, namun perintah ini lebih didasari banyak faktor dan para pelaut bayaran hanyalah salah satunya. Memasuki pertengahan 1580an Masehi, rata-rata terdapat 150 ekspedisi tahunan yang dijalankan para pelaut bayaran namun sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan pelayaran dalam skala kecil. Dengan makin berlarutnya perang Inggris-Spanyol, perniagaan resmi juga makin terganggu dan banyak pedagang yang mengalihkan tumpuan laba dengan cara memberi dukungan dana bagi para pelaut bayaran.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Para Kapten Kawanan Anjing Bahari

Hal yang cukup mengulik penasaran adalah fakta bahwa banyak anggota anjing bahari Ratu Elizabeth berasal dari wilayah Devon dan sebagian besar juga memiliki relasi baik melalui keturunan maupun perkawinan. Silsilah keluarga dan budaya maritim (seafaring) setempat pastinya turut menyumbang inspirasi para generasi muda untuk mengikuti jejak orang tua mereka dan menjadi kapten ekspedisi bayaran. Para kapten ini kadang bisa menjadi abdi tauladan bagi kerajaan, namun juga bisa menjadi tukang onar seperti dijelaskan sejarawan S. Brigden:

Saat daratan jadi tak kasat sejauh mata memandang, kapten kapal bebas memilih menjadi pedagang, bajak laut, penjelajah, atau gonta-ganti sesuka hati mereka. Siapa yang mampu mengekang para kapten ini begitu mereka berada di laut lepas? Dalam miniatur dunia di atas kapal, sang kapten bakal mutlak memiliki kekuasaan monarkis pun tirani dengan satu syarat: selama mereka mampu mencegah awak kapalnya melakukan pemberontakan. (278)

Kapten kapal bahkan tidak perlu merasa khawatir atau was-was menghadapi resiko (legal) ekspedisi bayaran atau bakal dimintai pertanggungjawaban oleh pihak berwenang. Walter Raleigh sendiri pernah berkata, “Bisakah kalian sebut satu (nama) saja yang dianggap bajak laut dengan (hasil) jutaan?” (Williams, 225). Dengan kata lain, menimbang besarnya harta yang bisa diperoleh, para pelaut bayaran ini jelas-jelas menjadi bagian dari aparat kenegaraan, alih-alih sekedar pencuri kelas teri.

Francis Drake by Hilliard
Francis Drake by Hilliard
by Nicholas Hilliard (Public Domain)
Jika tidak bisa disebut berandalan, pastinya 'pasukan' anjing bahari Ratu Elizabeth adalah orang-orang yang nekat, bahkan seringnya berlaku ceroboh. Namun keberangasan mereka juga berakar dari kebiasaan Raja Philip yang sama-sama cenderung teledor dalam hal menjaga hartanya sendiri. Alih-alih untuk kepentingan tempur atau pertahanan, kapal-kapal Spanyol lebih dibuat untuk mengangkut sebanyak mungkin kargo, karenanya banyak kapal niaga Spanyol jadi sasaran empuk kapal Inggris (juga kapal bangsa lain seperti Perancis dan Belanda) yang bukan hanya lincah namun juga bersenjata lengkap. Benar bahwa beberapa kapal utama milik Spanyol juga dipersenjatai, bahkan beberapa pelabuhan di Dunia Baru memiliki benteng pertahanan beserta meriam pancang (shore batteries) di beberapa titik pantai. Akan tetapi, berlayar di laut lepas menyatakan perkara yang sama-sekali berbeda mengingat besarnya resiko dan tingginya peluang para pelaut bayaran, termasuk bajak laut tulen, melakukan penyergapan atau penjarahan ilegal di tengah laut.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Francis Drake

Satu nama paling dikenal di antara sekian banyak kapten kawanan anjing bahari adalah Sir Francis Drake yang percaya bahwa ekspedisi bayaran merupakan strategi ekonomi bahkan politik yang laras (sound), sekaligus meyakini ekspedisi tersebut sebagai manifestasi perang suci (religious war) bagi kalangan Protestan Inggris melawan Katolik Spanyol. Francis Drake bahkan mendapat eksonim atau julukan dari bangsa Spanyol, ‘El Draque’ (bahasa Spanyol untuk ‘sang Naga’ atau ‘the Dragon’), selama mengarungi laut Karibia dan samudra Atlantik seraya menjarah kapal-kapal banda mereka. Namanya makin sohor setelah menyerang pemukiman koloni Spanyol di Nombre de Dios dan menangkap konvoi karavan bermuatan perak di Panama pada 1573 Masehi. Seolah demi membuktikan titik-simpang antara tujuan penjelajahan murni dan ekspedisi maritim bayaran, Drake menuntaskan pelayaran keliling dunia selama 1577 hingga 1580 Masehi.

butuh enam hari penuh untuk membongkar dan mengosongkan muatan emas dan perak dari kapal cacafuego.

Dalam satu pelayaran epik bersama kapal Golden Hind seberat 150-ton, Drake menyerang kapal-kapal di Kepulauan Tanjung Verde (Cape Verde Islands), berlayar menuruni semenanjung Amerika Utara sebelum naik menyebrangi samudra Pasifik seraya melancarkan penjarahan di berbagai pemukiman koloni Spanyol, seperti Valparaiso, dan banyak lagi kapal banda Raja Phillip. Pelayaran ini juga banyak menghasilkan peta laut (kar) baru untuk merekam garis pantai yang ditemukan, dan pada Maret 1579 Masehi, Drake berhasil menangkap kapal Nuestra Senora de la Concepćion (alias Cacafuego) di wilayah lepas pantai Peru sebagai hasil jarahan terbesar ekspedisinya. Sedemikian besarnya kargo kapal hingga perlu waktu enam hari penuh untuk membongkar dan mengosongkan semua muatan emas dan perak dari kapal Cacafuego.

Drake bergerak di sepanjang garis pantai Nikaragua, Guatemala dan Meksiko seraya melakukan penyerangan dan penjarahan kapal. Dia juga menjelajahi kemungkinan adanya Jalur Baratlaut menuju Asia sebelum balik berlayar ke arah selatan dan mendarat di wilayah dekat San Fransisko pada masa kini. Drake memberi nama daerah tersebut ‘New Albion’ dan mendeklarasikannya sebagai bagian dari wilayah Ratu Elizabeth (namun klaim ini tidak pernah ada kabar lanjutan). ‘Sang Naga’ yang gagah berani lantas menyebrangi samudra Pasifik dan mencapai Hindia Timur (Indonesia dan Filipina) serta mengangkut muatan rempah-rempah yang berharga. Setelah berhasil lolos dari bahaya karam akibat terhantam karang, Drake lanjut menyebrangi Samudra Hindia dan mengitari Tanjung Harapan, sebelum akhirnya berlayar balik menuju Plymouth setelah menempuh 2 tahun 9 bulan waktu pelayaran. Estimasi nilai barang jarahan yang dikumpulkan diperkirakan mencapai £600,000 atau lebih dari dua kali lipat jumlah total pemasukan tahunan Inggris masa itu. Tak pelak sang Ratu bertepuk tangan gembira atas hasil ekspedisi dari anjing bahari favoritnya seraya menganugrahkan dan menobatkan Drake dengan gelar kebangsawanan di atas geladak kapal Golden Hind. Pengakuan resmi ini sekaligus berfungsi sebagai pesan gamblang bagi Raja Philip bahwa anjing bahari sang Ratu adalah wakil kerajaan dan tidak bisa disamakan dengan bajak laut biasa yang mengarungi lautan, tak peduli apapun kebangsaan para bajak laut tersebut (termasuk Inggris sendiri). Atas penobatan dan kesuksesan ekspedisinya, Drake membuat dirinya menjadi orang terkaya di Inggris dalam hal kepemilikan aset uang kontan, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi para pelaut bayaran lain, dan tentu saja, mengharumkan namanya sebagai pahlawan nasional. Selang satu abad pasca tahun ekspedisi ini, kapal Golden Hind tetap dipamerkan di hadapan publik.

Sisihkan pariwara

Advertisement

A Model of the Golden Hind
A Model of the Golden Hind
by Alex Butterfield (CC BY)

Sepanjang 1580an Masehi, Drake berkelana menjelajah laut lepas dan terus menjarah banyak kapal niaga Spanyol di berbagai wilayah maritim seperti Kepulauan Tanjung Verde, San Domingo, Kuba, Kolumbia, Florida, dan Hispaniola (Haiti). Pada 1587 Masehi, Drake kembali memberikan bukti nyata atas manfaat para pelaut bayaran khususnya dalam hal pertahanan nasional setelah serangannya atas Cadiz berhasil menenggelamkan 31 kapal Spanyol, menangkap 6 lainnya dan menghancurkan banyak suplai logistik yang amat dibutuhkan bagi rencana raja Philip untuk membangun Armada Spanyol.

Walter Raleigh

Selain dikenal sebagai kapten pelaut bayaran, Raleigh juga salah satu penggerak atau pendukung koloni Inggris. Pada 1580an Masehi, Raleigh mengatur tiga ekspedisi untuk membangun sebuah koloni di wilayah pantai Amerika Utara yang sekaligus diharapkan berfungsi sebagai pangkalan militer untuk menyerang kapal-kapal Spanyol di Kepulauan Karibia. Meskipun pada akhirnya koloni Roanoke di ‘Virginia’ ini bakal ditinggalkan, namun ekspedisi maritimnya tetap dikenang karena memperkenalkan tembakau dan kentang pada masyarakat Inggris. Raleigh juga pernah terlibat dalam dua ekspedisi yang sama-sama gagal untuk menemukan kota emas legenda, El Dorado, di Amerika Selatan, masing-masing pada 1595 dan 1617 Masehi. Sekalipun marinir yang juga ponggawa istana ini ikut terlibat dalam penyerangan kedua atas Cadiz pada 1596 Masehi dan berhasil menghancurkan 50 kapal Spanyol, Raleigh bakal lebih banyak menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam (penjara) Menara London gegara membikin gusar raja Inggris, James I (bertahta 1603-1625 Masehi). Dalam masa kurungan inilah Raleigh menyelesaikan risalahnya, Sejarah Dunia (History of the World), yang terkenal.

Jasa Raleigh yang paling utama dibanding semua ikhtiar anjing bahari Ratu Elizabeth yang pernah dicatat adalah keberhasilan armadanya menangkap kapal banda milik Portugis, Madre de Deus (atau Madre de Dios), di kepulauan Azores pada 1592 Masehi. Disebut paling utama mengingat tangkapan ini menyatakan satu-satunya hasil jarahan terbesar yang pernah terjadi di sepanjang sejarah pelaut bayaran Inggris. Raleigh bertindak selaku penyokong dana (tidak ikut langsung) atas ekspedisi yang menangkap kapal dengan muatan barang-barang berharga dari Hindia Timur milik Raja Philip dari Spanyol. Kapal niaga-tempur (carrack) ini sendiri dilengkapi dengan 32 pucuk meriam dan 700 awak kapal, namun dipaksa menyerah menghadapi serangan kapal-kapal Inggris yang dilancarkan secara darun. Kargo jarahan seberat 500-ton berisikan tumpukan emas, perak, mutiara, batu permata, berkodi-kodi sutra beserta kain bermutu tinggi, gulungan kulit binatang eksotis, kerajinan kristal, porselen Cina, rempah-rempah, gading mentah dan kayu hitam, serta bermacam-ragam parfum. Dari semua kargo ini, Ratu Elizabeth menerima pembagian jatah barang senilai £80,000, sungguh jauh dari kata lumayan dibanding investasi awal sang Ratu senilai £3,000. Pastinya penangkapan ini juga menjadi sumber inspirasi bagi anjing bahari lainnya sekalipun hasil kapal Madre de Deus tak lagi tersaingi oleh siapapun, sampai kapanpun. 

Madre de Deus Model
Madre de Deus Model
by Marco2000 (CC BY)

Para Awak Kawanan Anjing Bahari

Pada masa-sama ini, rata-rata kapal memiliki ventilasi yang buruk ditambah ruangan pengap belum lagi kotor, karenanya seorang awak kapal lebih mungkin meninggal tersebab penyakit daripada tembakan meriam bangsa Spanyol. Pada kenyataannya, korban jiwa bisa sangat tinggi sampai-sampai ada kapal terpaksa ditelantarkan akibat tidak ada awak yang cukup untuk membuatnya berlayar. Satu-satunya alasan yang membuat semua kelasi tertarik dan rela berjibaku menghadapi bahaya, penyakit bahkan pertempuran maritim tak lain dan tak bukan adalah hasil jarahan. ‘Aturan’ kelautan yang berlaku menyatakan para awak ekspedisi bayaran dibolehkan mengambil apapun yang mereka sukai atau temukan selama barang tersebut bukan termasuk kargo atau muatan dari kapal yang ditangkap (kargo dibagi untuk kapten, petinggi kapal dan para investor, sejumlah kecil sisa muatan baru dibagi untuk awak kapal biasa). Namun dalam praktiknya, tentu saja amat susah mengatur atau mengawasi siapa mengambil apa selama penangkapan, karena itulah setangkup koin emas atau sejumput perhiasan yang berhasil ditilap sudah lebih dari cukup untuk menghapus seluruh kekuatiran finansial seorang pelaut kebanyakan di sepanjang sisa hidupnya. Alhasil, konsekuensi logisnya adalah mencari awak bagi ekspedisi bayaran jadi tak sesulit mencari awak untuk kapal dengan tujuan pelayaran yang tidak melibatkan hasil jarahan. Benar saja, tersebab sedemikian populernya iming-iming harta jarahan, kapal-kapal penangkap ikan di banyak pelabuhan Inggris jadi sering mangkir melaut akibat kekurangan awak untuk menarik jala.

Cerita Kegagalan

Dari semua kisah sukses kawanan anjing bahari seperti disebut sebelumnya, cerita kegagalan mereka juga sama banyaknya. Pelaut bayaran John Oxenham (sekitar 1535-1580 Masehi) mencoba mengambil alih Panama yang saat itu digunakan Spanyol sebagai rute-angkut hasil jarahan perak mereka dari Amerika Selatan menggunakan konvoi kereta bagal atau keledai. Oxenham mendarat di sebuah tanah genting pada 1576 Masehi serta berhasil menduduki wilayah tersebut selama satu tahun sebelum armadanya dikalahkan Spanyol dan semua awaknya, termasuk Oxenham, ditangkap. Kebanyakan anak buah Oxenham digantung di tempat, baik seketika atau nantinya, atau dipaksa menjadi budak-kayuh (galley slaves) kapal-kapal Spanyol. Oxenham sendiri dipenjara di kota Lima dan menerima bermacam siksaan untuk membongkar informasi terkait rencana Inggris di lautan Pasifik sebelum akhirnya dieksekusi mati pada 1580 Masehi.

Cerita bencana lain adalah kekalahan kapal Revenge yang saat itu berada dibawah komando Sir Richard Grenville (1542-1591 Masehi) sebagai kapten. Selain menyatakan tipikal anjing bahari, Grenville termasuk orang dengan multi-profesi: anggota Parlemen, tentara, pemilik perkebunan, dan tentu saja, marinir. Nama Grenville paling dikenang gegara keberaniannya – jika bukan perlawanan sia-sia –memimpin pertempuran tunggal dari atas geladak kapal Revenge melawan 56 kapal Spanyol di kepulauan Azores pada 1591 Masehi. Dikisahkan Grenville sedang berkeliaran di wilayah perairan kepulauan itu demi mencari kapal banda Spanyol untuk dijarah, namun dikejutkan dengan kedatangan armada dalam jumlah besar dari negara tersebut. Kapal-kapal Inggris yang lain berhasil menarik diri, sayangnya Grenville sendiri terjebak dalam isolasi. Berjuang dengan gagah berani atau juga nekat selama lebih dari 15 jam, kapal Revenge berhasil menimbulkan banyak kerusakan sebelum ditenggelamkan armada Spanyol. Meskipun kalah, pertempuran ini tetap menghantarkan Grenville dan kapalnya mencapai status legenda dalam kisah kelautan kerajaan Inggris.

The Fight of the Revenge
The Fight of the Revenge
by Charles Dixon (Public Domain)
Ketika ekspedisi bayaran bergabung dengan operasi militer kenegaraan, sering terbukti bahwa kesuksesan menjadi cerita berbeda yang sulit diraih. Dua di antara kegagalan paling besar yang bisa disebut adalah Ekspedisi Drake-Norris pada 1589 Masehi serta ekspedisi terakhir Drake sendiri di perairan Karibia pada 1595 Masehi. Ekspedisi yang disebut pertama terdiri dari satu armada besar beranggotakan 150 kapal untuk mengambil alih Lisbon namun berakhir mundur teratur dengan hasil jarahan hampir nihil. Ekspedisi yang disebut belakangan bahkan menjadi saksi meninggalnya Drake dalam percobaan terakhirnya untuk ‘membakar jenggot Raja Spanyol (singe the [Spanih] king’s beard)’. Dalam peristiwa ini Drake menghadapi perlawanan alot bangsa Spanyol di Porto Rico yang membuatnya kesusahan menembus garis pertahanan lawan berupa barisan benteng dan kapal bersenjata lengkap, dan akhirnya meninggal akibat disentri di setengah ekspedisi. Sekalipun masih akan muncul pelaut bayaran lain yang menggantikannya, namun masa kejayaan para anjing bahari bisa dikatakan turut berakhir dengan mangkatnya sang Naga.

Faktor Keterbatasan dan Kesirnaan

Ekspedisi bayaran sebagai bagian dari kebijakan kerajaan terbukti memiliki banyak kelemahan serius. Pertama, tidak atau hampir tidak ada koordinasi antar ekspedisi bayaran maupun kapten mereka. Pun dalam satu armada, konflik kepentingan sering meruak manakala salah satu kapten kapal berhasil mendapat hasil jarahan yang diincar atau ditargetkan bersama investornya, mereka cenderung banting geladak menuju pelabuhan halaman tanpa peduli nasib kawanannya di tengah laut. Kedua, juga tidak atau hampir tidak ada kaidah (value) strategis untuk mendukung kebijakan tersebut, dalam artian keberhasilan meraih untung dalam satu tahun, sama sekali tidak menyatakan jaminan keberhasilan yang sama pada tahun berikutnya. Dua masalah tersebut belum menghitung faktor persaingan dari bajak laut tulen dan atau pelaut bayaran negara lain seperti Perancis maupun Belanda. Belum juga menghitung kenyataan bahwa bangsa Spanyol sebenarnya sudah sangat menyadari mentalitas pelaut Inggris yang gampang ‘bersatu’ dalam mencari hasil jarahan besar, seperti disampaikan duta besar Guzman de Silva, “mereka memang memiliki kapal yang bagus namun sangat rakus dan sering bertindak semaunya sendiri” (Williams, 43). Alhasil, bangsa Spanyol balik membenahi strategi untuk meminimalkan ancaman para anjing bahari dengan membangun garis pertahanan pantai dan jajaran meriam pancang yang lebih efektif untuk melindungi wilayah koloni mereka. Masalah berikutnya, sekalipun Raja Phillip sering dipaksa membentang layar armada perak pada waktu laut genting (berakibat banyak kapal niaga Spanyol karam dihempas badai-laut), pada gilirannya penerapan siasat konvoi pengawalan kapal-kapal baru yang lebih cepat dengan persenjataan kuat terbukti mampu meningkatkan pertahanan dan sangat efektif mengatasi bahaya penjarahan maritim di awal 1590an Masehi, hingga pada 1595 Masehi, Spanyol kembali memiliki angkatan laut lengkap untuk berpatroli di laut lepas.

Faktor terakhir, perniagaan damai dan berkelanjutan terbukti jauh lebih menguntungkan semua pihak dibanding satu-dua aksi penjarahan di laut lepas, berapapun besar hasil rampasannya. Karena inilah, mau tidak mau, jumlah pelaut bayaran makin lama makin susut, sekalipun aksi pembajakan bahari tetap bakal mencapai puncak pada pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-18 Masehi. Namun peningkatan ini lebih disebabkan maraknya lalu-lintas kapal dari berbagai kerajaan kolonial Eropa sekaligus juga berarti suguhan godaan baru bagi para petualang maritim yang ingin memanfaatkan peluang gampang di tengah laut. Betapapun, ‘emas’ yang sesungguhnya tetap terletak pada perniagaan internasional, karenanya banyak perusahaan dagang berskala besar bermunculan seperti raksasa kolonial, Perusahaan Hindia Timur (East India Company), yang didirikan pada 1600 Masehi.

Apapun halnya, para anjing bahari inilah yang meletakkan pondasi sekaligus membuktikan bahwa Inggris, saat itu menarik diri dari kekuatan politik lain di Eropa, sebenarnya mampu secara berkelanjutan membangun kekaisaran dunia berbasis kekuatan armada kapalnya. Pada masa yang sama, pelaut Inggris telah dipersenjatai dengan pengetahuan yang lebih maju tentang arah angin dan gerak pasang serta telah dilengkapi dengan peta-laut akurat dan instrumen navigasi yang bisa diandalkan. Para anjing bahari ini bahkan ikut melakukan perombakan sosial di negaranya. Mereka yang sukses meraup kekayaan dari ekspedisi bayaran beranjak naik ke tangga sosial yang lebih tinggi, mampu membeli lahan dan turut berinvestasi dalam berbagai usaha dagang atau bisnis yang bakal mengabadikan nama-paten (household names) usaha mereka di mata publik. Di samping kekayaan, pelaut bayaran ini juga turut memperkenalkan banyak produk baru seperti tembakau, gula, merica dan cengkeh, yang bakal diadopsi oleh seluruh kalangan masyarakat Inggris sehari-hari. Karena itu, mungkin bukan kebetulan belaka jika citraan kapal layar (galleon) dari masa Elizabeth I muncul pada keping mata uang kerajaan Inggris dan tetap dipakai dalam berbagai satuan koin hingga 1971 Masehi.

Sisihkan pariwara

Advertensi

Tentang Penerjemah

Mochamad Nasrul Chotib
Mochamad Nasrul Chotib adalah lulusan Program Magister bidang Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Saat ini berprofesi sebagai dosen tetap pada Universitas Negeri Malang.

Tentang Penulis

Mark Cartwright
Mark is a history writer based in Italy. His special interests include pottery, architecture, world mythology and discovering the ideas that all civilizations share in common. He holds an MA in Political Philosophy and is the Publishing Director at AHE.