Hinduisme

Definition

Joshua J. Mark
by , translated by Mochamad Nasrul Chotib
published on 08 Juni 2020

Original text in English: Hinduism

Shiva Nataraja (Lord of the Dance) (by Peter F, CC BY-SA)

Hinduisme pertama berkembang dari wilayah Asia Tengah dan Lembah Hindus (Indus) dan merupakan agama tertua di dunia yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Istilah ‘Hinduisme’ sendiri adalah sebuah eksonim (kasus julukan, yakni sebutan atau nama yang diberikan pihak luar pada suatu orang, masyarakat, tempat dan atau konsep tertentu) dan berasal dari istilah Persia, Sindus, untuk menyebut mereka yang tinggal di sepanjang sungai Hindus. Umat Hindu juga menamai atau mengenal agama mereka sebagai Sanata Darma (‘Darma Kekal atau Takdir Abadi’). Dan, seperti digariskan dalam kitab pegangan mereka yang dikenal sebagai Weda (Vedas), umat Hindu juga memahami konsep ajaran tersebut manifestasi hakiki dari Brahma (Brahman), atau Sang Maha-Jiwa (Over Soul) paling mutlak yang dari-Nya segala penciptaan berawal dan sudah dari semestinya berasal. Brahma juga menyatakan Prima Kausa (Sebab Pertama) yaitu sesuatu yang dengan sendirinya serta sudah sepatutnya bergerak (in motion) dan menyebabkan segala sesuatu bergerak, termasuk juga menyatakan penciptaan pertama itu sendiri yang menuntun arah segala penciptaan berikutnya.

Berdasar konsep tersebut, bisa dimaklumi jika banyak orang memahami agama Hindu dengan beragam konsep seperti monoteistik (ada konsep tuhan/dewa tunggal), politeistik (dewa tunggal/utama memiliki banyak dewa pendamping, atau biasa disebut ‘Avatar’ yaitu dewa dengan tugas/cakupan yang lebih spesifik atau lebih kecil dari dewa utama), henoteistik (mengingat pemeluknya bisa bebas memilih dan mengangkat salah satu dewa avatar ke jenjang keilahian yang lebih tinggi), panteistik (mengingat para dewa avatar tersebut bisa menjadi representasi atau manifestasi dari aspek atau elemen alam), atau bahkan atheistik, mengingat pemeluknya bisa mengganti konsep Brahma dengan dirinya sendiri sebagai upaya pencapaian atau pencarian jati diri yang lebih sempurna. Sistem kepercayaan ini pertama digariskan secara tertulis dalam manuskrip atau kitab Weda (Vedas) pada masa yang dikenal dengan nama Periode Weda (Vedic Period, berlangsung sekitar 1500 – 500 SM), namun sebenarnya konsep kepercayaan tersebut sudah diturunkan secara lisan jauh sebelum Periode Weda dimulai.

Remove Ads

Advertisement

Hinduisme diketahui tidak memiliki pendiri atau awal waktu yang pasti, juga – berdasarkan ajarannya – tidak diketahui perkembangan pastinya sebagai sebuah sistem kepercayaan; para penulis Weda diketahui hanya mencatatkan (ajaran) yang sudah ada atau muncul sebelumnya. Pengetahuan abadi ini dikenal sebagai shruti (“apa yang didengar”) serta dimaktub dalam Weda beserta bagian-bagiannya yang dinamai Samhita, Aranyaka, Brahmana, dan yang paling terkenal, Upanishad, masing-masing dengan bahasan aspek keimanan yang berbeda.

tujuan hidup adalah mengenali eksistensi kemanunggalan paling mendasar yaitu aspek (jati-)diri yang lebih tinggi dalam tiap individu, melalui ketaatan pada kewajiban hidup individu tersebut.

Berbagai manuskrip di atas dilengkapi dengan naskah jenis lain atau smritis (“apa yang diingat”) yang membeberkan beragam kisah tentang bagaimana seseorang seyogyanya mempraktikkan keimanan. Termasuk dalam naskah jenis ini adalah kitab Purana, epik Mahabharata dan Ramayana, Yoga Sutra, dan Bhagawad Gita. Akan tetapi, tidak satupun dari beragam kitab atau manuskrip di atas bisa dianggap atau dimaknai sebagai “Kitab Suci” agama Hindu mengingat tidak ditemukan klaim bahwa manuskrip tersebut merupakan “Firman Tuhan”; melainkan lebih menyatakan catatan wahyu atas hakikat eksistensi yang mengidealkan semesta bersifat rasional, terstruktur, dan dituntun oleh Sang Maha-Jiwa (Brahma) yang esensi-Nya juga mencakup seluruh umat manusia.

Tujuan hidup adalah mengenali eksistensi kemanunggalan paling mendasar yaitu aspek (jati-)diri yang lebih tinggi dalam tiap individu (dikenal sebagai Atma) yang merupakan bagian dari diri sendiri dan Sang Maha-Jiwa. Penyatuan ini dicapai melalui ketaatan pada kewajiban hidup (dharma) individu tersebut dengan melaksanakan tindakan yang sesuai (karma) untuk melepas berbagai ikatan eksistensi yang bersifat duniawi dan lolos dari siklus lahir-mati (samsara). Manakala seseorang telah menuntaskan penyatuan tersebut, jiwa atau Atma-nya akan bergabung bersama Brahma dan karenanya, berpulang kepada kemanunggalan primordial (abadi). Salah satu hal yang bisa menghalangi seseorang menyadari kemanunggalan tersebut adalah ilusi dualitas (kegandaan) yaitu kepercayaan bahwa seseorang terpisah dari (orang) lain dan Pencipta-nya tersebab dorongan atau dasar pengalaman (hidup) seseorang di dunia fana. Namun, kesalahan konsepsi ini (dikenal sebagai maya) bisa diatasi dengan belajar mengenali esensi kesatuan dari semua eksistensi (seberapa mirip individu dengan sesamanya dan, pada akhirnya, Pencipta-nya) serta terus berupaya mencapai kondisi pencerahan atas aktualisasi-diri.

Remove Ads

Advertisement

Perkembangan Awal

Suatu bentuk sistem kepercayaan yang bakal menjadi, atau setidaknya mempengaruhi, Hinduisme kemungkinan besar muncul di wilayah Lembah Hindus (Indus) sejak sebelum milenium ketiga SM, yakni ketika sebuah koalisi suku-suku nomadik yang menyebut diri mereka sebagai suku Arya mulai masuk ke wilayah Asia Tengah. Sebagian dari kelompok suku ini memilih menetap di wilayah yang disebut Iran pada masa modern (karenanya saat ini mereka dinamakan Indo-Iranian dan beberapa dari mereka nantinya dikenal di dunia Barat sebagai bangsa Persia). Sementara sebagian lain dari koalisi suku Arya lebih memilih bertempat tinggal di wilayah Lembah Hindus (karenanya disebut sebagai Indo-Aryan pada masa kini). Tersebab inilah nama atau istilah ‘Arya’, yang juga bisa diartikan “orang merdeka (free man)” atau “luhur (noble)”, sebenarnya lebih mengacu pada kelompok atau kelas masyarakat dan tidak sama sekali menyatakan sebuah konsep ras. Karena itu mitos atau cerita lama tentang “Invasi suku Arya” yang percaya bahwa ras Kaukasia “membawa peradaban” pada wilayah ini sebenarnya lebih menyatakan hasil pemikiran cupat dan prasangka para ilmuwan Barat abad ke18 dan ke-19, serta telah sejak lama ditolak atau dianulir.

Map of the Indus Valley Civilization
Map of the Indus Valley Civilization
by Dbachmann (GNU FDL)

Fakta dari sisa reruntuhan kota seperti Mohenjo-daro dan Harappa (sekedar menyebut dua nama yang paling terkenal) menunjukkan bahwa sebuah peradaban yang sangat maju telah berkembang pesat di wilayah Lembah Sungai Hindus pada sekitar 3000 SM, yang lahir dari pemukiman Periode Neolitik pada tahun-tera sebelum 7000 SM. Saat ini, periode tersebut dinamai sebagai era Peradaban Lembah Hindus atau Peradapan Harappa (sekitar 7000 hingga 600 SM) yang nantinya akan dipengaruhi dan bercampur dengan budaya dari suku Indo-Aryan.

Pada sekitar 2000 SM, kota agung Mohenjo-daro telah memiliki jalanan dari batu bata, irigasi, dan sistem industri, dagang dan politik yang sudah sangat maju. Hampir bisa dipastikan bahwa masyarakat kota ini juga mengembangkan sistem religi yang melibatkan ritual pemandian dan peribadatan lainnya, namun tidak ditemukan bukti tertulis yang bisa menguatkan pendapat ini. Yang lebih diyakini (para ilmuwan) adalah apapun bentuk yang diambil sistem keagamaan tersebut, banyak elemennya yang signifikan berasal dari sumber luar seperti halnya dasar pemikiran Weda (termasuk banyaknya nama dan karakterisasi para dewa) sangat dekat terhubung dengan Agama Iran Masa Awal dari bangsa Persia.

Remove Ads

Advertisement

Agama pada masa awal Lembah Hindus berkembang melalui pengaruh berbagai kedatangan baru selama Periode Weda. Pada masa ini, sistem kepercayaan yang dikenal dengan nama Wedaisme (Vedism) dikembangkan oleh golongan yang juga disebut masyarakat Weda (Vedic people). Mereka menulis  dalam bahasa Sansekerta, yakni bahasa yang sepenuhnya digunakan menyusun kitab Weda. Cendekia John M. Koller mencatatkan:

Bahasa Sansekerta, darinya kitab Weda menyatakan bukti ekspresi tertua yang masih bertahan, menjadi (bahasa) dominan. Sekalipun tradisi Sansekerta merefleksikan berbagai bentuk adopsi dan akomodasi dari banyak sumber non-Weda, (tradisi) ini lebih menutupi dibanding menampakkan berbagai kontribusi tersebut. Karenanya, alih-alih berpaling kepada kebesaran peradaban Hindus kuno, justru pada (kitab) Weda kita seharusnya berpaling jika ingin lebih memahami pemikiran bangsa India pada masa paling awal. (16)

Kitab Weda berupaya memaknai hakikat dari eksistensi dan tempat individu pada tataran kosmis. Sebagai upaya menjawab pertanyaan tersebut, para alim (sages) tersebut mengembangkan sistem teologi canggih yang nantinya menjadi Hinduisme.

Excavation Site at Mohenjo-daro
Excavation Site at Mohenjo-daro
by Grjatoi (CC BY-NC-SA)

Brahmanisme

Wedaisme beralih menjadi Brahmanisme, yakni sebuah sistem religi yang berfokus pada Kebenaran dasar, Prima Kausa, segala bentuk fenomena atau aspek eksistensi, baik kasat maupun limun.  Para alim yang mengembangkan Brahmanisme memulai (ajaran) dengan dunia kasatmata yang beroperasi berdasar aturan tertentu. Mereka menyebut aturan ini sebagai rita (“tatanan”) dan menyimpulkan bahwa sebelum rita atau tatanan muncul, harus ada sesuatu yang muncul dan ada terlebih dahulu untuk membuatnya; singkatnya, tidak akan mungkin ada ciptaan tanpa penciptanya.

Remove Ads

Advertisement

Pada masa tersebut, ada banyak dewa dalam pantheisme Weda yang bisa atau pantas menjadi kandidat Prima Kausa, namun telaah para alim ini justru melampaui ancang-keilahian yang antropomorfik dan berhasil menemukan, seperti dijabarkan Koller, bahwa “ada sebuah keutuhan, suatu realita tak-berbelah, yang bahkan lebih mendasar dari sekedar entitas fana atau baka” (19). Entitas ini kemudian digagaskan sebagai sebuah individu namun dengan sosok yang sangat hebat dan berkuasa melebihi pemahaman manusia. Sosok yang kemudian mereka sebut sebagai Brahma ini tidak hanya berada dalam realita alam fana (seperti makhluk lainnya) atau realita alam baka (seperti makhluk gaib atau bahkan pra-eksistensi), namun sebenarnya juga wujud dari realita itu sendiri. Brahma tidak hanya menyebabkan kenyataan menjadi seperti adanya saat ini; dia juga wujud dari kenyataan saat ini, sejak dulu dan terkemudian. Karenanya, Sanata Darma – Takdir Abadi – dimaktub sebagai nama dari sistem kepercayaan ini.

Brahman Worshipper
Brahman Worshipper
by James Blake Wiener (CC BY-NC-SA)

Masalahnya, jika benar demikian adanya, individu fana dan non-mutlak yang hanya memiliki masa hidup singkat di dunia ini bakal susah memiliki harapan untuk terhubung dengan entitas pamungkas dari sumber kehidupan tersebut. Karena Brahma berada di luar jangkauan, tidak ada bentuk relasi atau hubungan yang mungkin terjadi. Menjawab masalah ini, para alim Weda mengalihkan perhatian mereka dari Prima Kausa kepada individu dan mendefinisikan aspek diri menjadi badan fisik, jiwa, dan benak. Namun, tidak satupun dari aspek ini yang cukup mampu membuat hubungan dengan Sang Pamuncak hingga individu tersebut mampu memahami bahwa ada diri yang lebih tinggi (jati-diri) yang menuntun fungsi semua aspek individu tersebut. Koller memberikan tanggapan:

(Jati-)Diri ini dikatakan sebagai “bukan yang diketahui dan bukan yang tidak diketahui” [Kena Upanishad I.4]. Pertanyaan yang diajukan para alim adalah: Apa yang membisakan kita melihat, mendengar, dan bernalar? Tapi pertanyaan ini bukan tentang proses fisiologis pun mental, melainkan tentang ‘subjek-pamungkas’ yang memahami. Siapa yang menuntun mata melihat warna dan benak menggagas pemikiran? Para alim kemudian mengasumsikan bahwa harus ada semacam penuntun internal, atau agen dari dalam, yang bertindak mengarahkan berbagai fungsi pengetahuan. (24)

“Penuntun internal” ini disebut sebagai Atma – jati-diri yang lebih tinggi dari tiap individu – sekaligus terhubung dengan Brahma karena Atma juga Brahma. Semua individu sudah membawa Kebenaran Hakiki dan Prima Kausa dalam dirinya masing-masing. Karenanya, tidak ada alasan untuk mencari entitas tersebut di luar individu itu sendiri mengingat setiap diri sudah memilikinya dari dalam; seseorang hanya perlu untuk menyadari kebenaran ini sebelum bisa menjalaninya. Inilah yang diekspresikan Chandogya Upanishad dalam ungkapan Tat Tvam Asi­ – “Kalian Sudah Semestinya” (“Thou Art That”) – seseorang sudah menjadi apa yang dicarinya; dia hanya perlu menyadari hal tersebut.

Pencapaian kesadaran ini juga dimotivasi melalui berbagai ritual yang tidak hanya merayakan Brahma, namun juga menghidupkan kembali segala bentuk penciptaan. Kaum pendeta (Brahmana), ketika mengkhusukkan diri pada Sang Maha-Pamungkas melalui berbagai rapalan, mantra dan kidung dari Weda, juga mengkhusukkan umat dengan cara menegaskan fakta bahwa mereka sebenarnya sudah sampai di tempat yang ingin mereka tuju, mereka bukan sekedar hadir di antara para Ilahi namun juga menjadi bagian tak terpisah dari keilahian tersebut, dan yang perlu mereka lakukan hanyalah menyadari kenyataan ini dan memuliakannya dengan berprilaku sesuai kewajiban yang telah digariskan secara ilahiah dalam kehidupan yang bertujuan menegakkan kewajiban tersebut.

Hinduisme Klasik

terlepas dari apapun bentuk yang dianut pemeluknya, tujuan utama hinduisme adalah pengenalan-diri; dalam mengenali diri, seseorang akan mengenali tuhannya

Brahmanisme kemudian berkembang menjadi sistem yang sekarang dikenal dengan Hinduisme dan, meskipun dianggap kebanyakan orang sebagai agama, juga dianggap oleh sebagian sebagai jalan hidup dan filsafat. Terlepas dari apapun bentuk yang dianut pemeluknya, tujuan utama Hinduisme adalah pengenalan-diri; dalam mengenali diri, seseorang akan mengenali Tuhannya. Kejahatan datang dari kelalaian mengetahui apa itu kebaikan; karenanya, pengetahuan tentang kebaikan bisa menolak kejahatan. Adalah tujuan hidup seseorang untuk mengenali nilai kebaikan tersebut serta berupaya mencapainya sesuai kewajiban tertentu (darma) masing-masing, dan segala tindakan yang terlibat sebagai kepatuhan dari upaya pencapaian tersebut menjadi karma orang itu sendiri. Karena itu, semakin patuh seseorang menjalankan karma-nya sesuai dengan darma-nya, semakin dekat jarak mencapai aktualisasi-diri dan, dengan sendirinya, makin dekat menyadari (unsur) Keilahian dalam dirinya.

Dunia fana hanyalah ilusi senyampang kefanaan tersebut menambah keyakinan seseorang akan dualitas dan kejarakan. Orang boleh saja memutar punggung dan berbalik haluan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi pertapa-religi, namun Hinduisme juga sebenarnya mendorong partisipasi penuh dalam kehidupan melalui purusharthas – target hidup – yang terdiri atas:

  • Artha – karir, tempat tinggal, kekayaan material seseorang
  • Kama – cinta, seksualitas, sensualitas, kenikmatan
  • Moksha – pengudaran, pembebasan, pencerahan, aktualisasi-diri

Jiwa merasakan kenikmatan dalam melakukan pengejaran duniawi, sekalipun sebenarnya menyadari semua kesenangan tersebut hanyalah semu atau sementara. Jiwa adalah kekal – selalu telah menjadi bagian dari Brahma dan akan abadi – karenanya kematian sebagai akhir hanyalah ilusi. Pada peristiwa kematian, jiwa meninggalkan badan wadak dan akan mengalami reinkarnasi jika gagal mencapai Moksha, atau jika berhasil, sang Atma akan menjadi satu dengan Brahma dan kembali ke rumah yang kekal. Siklus kelahiran dan kematian ini, atau dinamai samsara, akan tetap berlanjut hingga sang jiwa merasa ‘kenyang’ atas pengalaman dan kenikmatan duniawi sebelum beralih memusatkan perhatian pada kehidupan yang berpijak pada kedekatan dan pencapaian hal-hal yang bersifat hakiki ketimbang semu.

Ganesha Statue
Ganesha Statue
by Swaminathan (CC BY)

Terdapat tiga kualitas atau karakteristik bawaan, disebut guna, pada semua jiwa yang bisa membantu atau bahkan menghalangi mencapai tujuan tersebut:

  • Sattva – kearifan, kebaikan, kedekatan pada pencerahan
  • Rajas – intensitas yang bergairah, aktivitas konstan, agresi
  • Tamas – secara harfiah “tertiup angin”, kegelapan, kebingungan, keputusasaan

Guna tidak menyatakan tahapan yang harus ‘ditempuh satu-persatu’ mulai paling bawah hingga atas; melainkan ketiga kualitas tersebut telah ada pada semua jiwa dalam derajat yang lebih besar atau lebih kecil. Orang yang biasanya berperangai tenang dan hidup dengan baik masih sangat mungkin terseret gairah atau berpupus asa berkepanjangan. Oleh sebab itu, mengenali fungsi keberadaan guna yang sebenarnya, dan terus berupaya untuk mengendalikan aspek-aspek gunas yang kurang diinginkan, bakal membantu seseorang melihat lebih jelas dharma-nya sendiri dan bagaimana cara yang tepat untuk memenuhinya. Dharma tiap manusia hanya bisa dipenuhi atau dituntaskan sendiri; tidak mungkin dan tidak akan pernah bisa seseorang memenuhi kewajiban atau darma orang lain. Semua individu terlahir di dunia dengan peran khusus yang wajib dituntaskannya, jika individu tersebut memilih untuk tidak melaksanakan perannya dalam kehidupan sekarang, dia akan kembali dalam (kehidupan) lain, dan lainnya, dan seterusnya hingga perannya dituntaskan.

Proses tersebut sering terhubung dengan sistem Kasta dalam Hinduisme yang menempatkan seseorang terlahir pada satu tingkat tertentu dan tidak bisa diubah dengan cara apapun. Sepanjang hidupnya, orang tersebut diwajibkan memenuhi fungsi khusus sesuai kastanya dan akan bereinkarnasi jika gagal menuntaskan kewajiban dengan baik. Namun, tidak seperti kebanyakan anggapan, konsep ini tidak diterap-paksakan oleh pemerintah kolonial Inggris pada abad ke-19 Masehi pada masyarakat India, sebaliknya telah pertama kali dimaktub dalam Bhagawad Gita (disusun sekitar abad ke-5 hingga ke-2 SM) pada saat Krisna menjelaskan gunas dan tanggung jawab terkait dharma kepada Arjuna.

Krishna Manifesting His Full Glory to Arjuna
Krishna Manifesting His Full Glory to Arjuna
by Steve Jurvetson (CC BY)

Krisna menyebutkan bahwa tiap individu wajib menuntaskan hal yang sudah seharusnya dituntaskannya dan menghubungkan kewajiban ini dengan sistem varna, atau kasta, untuk menjelaskan bagaimana manusia sepatutnya hidup sesuai tuntunan Takdir Ilahi. Siapapun bisa menjadi pendeta, ksatria, atau pedagang jika ini memang dharma mereka; sistem kasta ini sudah menjadi bawaan dalam diri seseorang seperti laiknya kualitas guna. Wejangan Krisna nantinya akan direvisi dan dimaktub dalam manuskrip yang dikenal sebagai Manusmriti (“Hukum Manu”). Naskah ini disusun mulai abad ke-2 SM hingga abad ke-3 Masehi dan menyatakan bahwa sistem kasta yang ketat telah digariskan sebagai bagian dari Kehendak Ilahi dan menakdirkan tiap manusia – di sepanjang kehidupannya – berada dalam kasta sosial tempatnya dilahirkan. Hukum Manu adalah naskah pertama yang menyatakan konsep tersebut sebagaimana dimaknai hingga saat ini.

Manuskrip & Peribadatan

Lebih dulu mengesampingkan interfensi (naskah) Manu yang datang belakangan, konsep Takdir Abadi digamblangkan dalam berbagai manuskrip yang dianggap sebagai kitab suci (scriptures) agama Hindu. Berbagai kitab tersebut, seperti dijelaskan sebelumnya, terbagi dalam dua golongan:

  • Shruti (“apa yang didengar”) – catatan wahyu tentang hakikat eksistensi sebagaimana para penulis Weda “mendengar” dan mencatatkannya dalam kitab tersebut.
  • Smritis (“apa yang diingat”) – cerita para pahlawan agung dari masa lalu dan bagaimana mereka berhasil – atau gagal – menjalankan tugas/kewajiban sesuai kehendak Takdir Abadi.

Naskah yang menjabarkan Shruti termaktub dalam Empat (kitab) Weda:

  • Rig Weda – kitab Weda tertua, berisi kumpulan himne atau syair
  • Sama Weda – catatan, rapalan dan kidung liturgi (peribadatan massal)
  • Yajur Weda – tatanan ritual, mantra, rapalan
  • Atharwa Weda – jampi (spells), rapalan, himne/syair, doa

Masing-masing kitab di atas selanjutnya dipisahkan dalam beberapa jenis:

  • Aranyaka – ritual, peribadatan
  • Brahmana – ulasan tentang ritual dan tata cara peribadatan yang menjelaskan ritual tersebut
  • Samhita – pemberkatan, doa, mantra
  • Upanishad – ulasan filosofis terkait makna kehidupan dan Weda

The Vedas (Rig-veda)
The Vedas (Rig-veda)
by BernardM (CC BY-SA)

Naskah yang memaktub Smritis adalah:

  • Purana – cerita rakyat dan legenda tentang berbagai tokoh dari masa lalu
  • Ramayana – kisah kepahlawanan Sri Rama dan perjalanannya mencapai aktualisasi-diri
  • Mahabharata – kisah kepahlawanan lima Pandawa dan perang menghadapi Kurawa
  • Bhagawad Gita – kisah populer berisi wejangan tentang darma dari Krisna kepada Arjuna
  • Yoga Sutra – ulasan terkait berbagai disiplin yoga dan pembebasan-diri

Semua naskah tersebut juga menyinggung atau secara khusus membahas berbagai dewa lain seperti Indra, penguasa kekuatan alam, petir, badai, perang dan keberanian; Vak atau Vac, dewi nurani (consciousness), tutur-bahasa (speech) dan komunikasi; Agni, dewa api dan terang (iluminasi); Kali, dewi kematian; Ganesha, dewa berkepala gajah, pencabut aral (halangan); Parwati, dewi cinta, kesuburan, kekuatan, juga sebagai permaisuri dewa Siwa; dan Soma, dewa laut, kesuburan, terang, dan kesenangan. Di antara yang paling utama dari dewa-dewa tersebut adalah tiga dewa yang menyatakan “Trinitas Hindu”:

  • Brahma – Sang Pencipta
  • Wisnu – Sang Penjaga
  • Siwa – Sang Pemusnah

Semua dewa tersebut adalah manifestasi dari Brahma, Sang Pamuncak Realita, yang hanya bisa dimaknai melalui aspek Keilahian-Nya sendiri. Brahma, Wisnu dan Siwa adalah bagian dari aspek tersebut sekaligus menyatakan individu ilahiah tersendiri dengan karakterisasi, motivasi dan kehendak masing-masing. Mereka juga bisa dimaknai melalui avatar (bentuk titisan) masing-masing, mengingat [wujud ilahiah] mereka terlalu kompleks atau luar biasa untuk dipahami sendiri, karenanya mereka mengambil bentuk dewa-dewa lain. Contoh yang paling terkenal adalah Krisna sebagai Avatar (Titisan) Wisnu, dewa yang secara berkala datang ke dunia untuk menuntun pahaman sekaligus melakukan koreksi atas kesalahan umat manusia.

Dalam kisah Bhagawad Gita, Krisna sengaja berlakon sebagai sais kereta perang Arjuna karena menyadari sang Pangeran bakal berberat hati memerangi para sepupunya sendiri di padang laga Kurusetra. Krisna menghentikan jenak waktu untuk memberikan wejangan pada Arjuna tentang hakikat dharma dan ilusi atas kematian sebagai akhir kehidupan. Wejangan tersebut mengkhusukkan benak Arjuna yang sebelumnya tergandoli pahamannya atas kondisi kekinian (present circumstances), dan membantunya menuntaskan kewajiban sebagai ksatria.

Semua naskah tersebut di atas juga memberikan informasi tentang tata cara peribadatan religi bagi para penganut Sanata Darma dan, secara garis besar, memiliki dua aspek:

  • Puja – sembahyang, ritual, kurban atau sesembahan, dan doa yang bisa dilakukan di tempat keramat (shrine) untuk dewa tertentu atau di kuil
  • Darsha – kontak visual secara langsung dengan patung dewa

Setiap orang bisa menyembah Ilahi-nya di rumahnya sendiri, di tempat keramat (shrine) bagi dewa tertentu dan atau di kuil besar. Di biara atau kuil, para biarawan biasanya membantu peziarah dan keluarganya dengan bertindak selaku perantara bagi mereka dengan para dewa melalui beragam petuah, rapalan, kidung dan doa. Karenanya, berbagai bentuk nyanyian, tarian dan gerakan tertentu sering mencirikan pelayanan religi sebagai bentuk ekspresi individu di hadapan Tuhan-nya. Elemen penting lain dalam ritual keagamaan semacam ini adalah kontak visual dengan mata ilahi yang direpresentasikan melalui patung atau sosok-bentukan (figurin).

Pada latar-makna tertentu, darsha menjadi elemen vital dalam sembahyangan dan misa (komuni) karena para dewa tersebut juga sedang mencari para pengikutnya dengan sama tulusnya seperti pengikutnya mencari mereka, sebelum akhirnya bertemu dan bertatap mata. Konsep ini menjelaskan alasan kuil-kuil Hindu banyak dihias dengan beragam figur atau patung dewa, baik di bagian luar maupun bagian dalam biara. Patung tersebut diyakini sebagai jelmaan langsung dewa itu sendiri dan para pengikutnya bisa memperoleh keberkahan dan pelipuran melalui kontak mata seperti saat bersua dengan teman.

Statue of Lord Vishnu
Statue of Lord Vishnu
by PHGCOM (Copyright)

Simpulan

Hubungan antara pemeluk kepercayaan dan ilahinya seperti ini tampak jelas melalui berbagai festival yang dirayakan di sepanjang tahun. Salah satu dari yang paling populer adalah Diwali, atau Festival Cahaya, yang memperingati kemenangan energi-terang dan cahaya melawan kekuatan negatif dan kegelapan. Pada festival ini, seperti laiknya peribadatan sehari-hari, kehadiran figur atau patung ilahi penting dibutuhkan untuk membangun koneksi dan mengkhusukkan benak pemeluknya.

Diwali bisa jadi merupakan contoh terbaik dari disiplin Bhakti Yoga yang berkhusus pada kecintaan terhadap kebaktian dan pelayanan. Masyarakat bersama-sama membersihkan, merenovasi, menghias dan memperbaiki lingkungan tempat tinggal mereka sebagai penghargaan sekaligus ucapan syukur atas segala anugrah yang telah diberikan oleh Laksmi, dewi kesuburan dan kemakmuran. Namun, bisa sangat mungkin berbagai dewa lain akan menggantikan Laksmi dan dipuja saat Diwali, bergantung pada kebutuhan penganutnya dan anugrah apa yang telah mereka terima setahun belakangan ini.

Pada akhirnya, sosok dewa secara individu menjadi tidak penting mengingat semua dewa bersumber pada aspek Brahma seperti halnya si pemuja dan lelaku pemujaannya. Detil peribadatan juga tidak penting ketika dibandingkan dengan esensi peribadatan itu sendiri yang mengakui tempat seseorang dalam maharaya-semesta dan meneguhkan komitmen penganutnya untuk menerima kemanunggalan ilahi dalam semua aspek kehidupan mereka, serta hubungan antar-sesama penganutnya yang sedang berjalan pulang ke rumah yang sama.

Remove Ads

Advertisement

About the Translator

Mochamad Nasrul Chotib
Mochamad Nasrul Chotib adalah lulusan Program Magister bidang Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Saat ini berprofesi sebagai dosen tetap pada Universitas Negeri Malang.

About the Author

Joshua J. Mark
A freelance writer and former part-time Professor of Philosophy at Marist College, New York, Joshua J. Mark has lived in Greece and Germany and traveled through Egypt. He has taught history, writing, literature, and philosophy at the college level.
Remove Ads

Advertisement